Pengalaman dan pelajaran hidup terberat dalam hidup kami.
09 Maret 2009 pagi, saat mandi keluarlah darah panjangnya kira-kira 8cm dan lendir (kami sempat simpan di tissue & pada akhirnya setelah kuret, salah satu bagian dari calon anak kami itu kami makamkan di bawah jendela kamar …hiks…)
Langsung telpon dokter & dokter bilang aku harus dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Saat itu aku udah ngga bisa berfikir apa2 lagi, aku Cuma pasrah (tapi belum ikhlas rasanya, karena sepanjang perjalanan ke rumah sakit aku terus menangis). Rasanya berat harus menghadapi perpisahan dengan calon anak kami yang selama 10 minggu ini sudah menemani hidup kami. Yang selama itu selalu aku ajak setiap aku melakukan aktifitas. Yang membuat aku tidak lagi merasa kesepian karena ayahnya sering pulang malam. Duh, kok jadi ngelamun yaa…
Begitu datang ke rumah sakit perutku mulai mulas, saat di USG terlihat kantong hamilnya sudah hancur sebagian dan aku harus dikuret hari itu juga.
Karena harus dibius total, aku harus berpuasa selama lebih kurang 5 jam. Jam 11 mulai persiapan operasi, suster mengecek data diriku secara lengkap antara lain mengenai riwayat kesehatan (misalnya : tekanan darah, nadi, riwayat penyakit, alergi, dll). Dicek darah, ditindik kuping (hah…? untuk mengetes pembekuan darah ibu-ibu…), dipasangkan jarum untuk memasukkan obat bius di tangan kiri (sakiiit banget…), diganti dengan baju operasi.
Jam 12 masuk ruang operasi (duh deg2an banget deh, mana suamiku ngga boleh nemenin). Sepanjang nunggu dokter aku ngga berhenti komat-kamit baca doa (takut ngga bangun lagi kayak banyak kasus di tv). Prosesnya singkat sekali, lebih kurang 15 menit. Saat dibangunkan suster rasanya aku masih komat-kamit baca doa. Setengah sadar, suster memperlihatkan jaringan hasil kuret, memang sudah hancur (oh… anakku…).
What a heavy day…
Pasca kuret aku diberi obat :
- Cefat 500 Mg : Antibiotik
- Mefinal 500 Mg : Pereda Sakit
- Pospargin 0.125 : Merangsang kontraksi rahim & mencegah pendarahan.
Sampai hari ini 14 hari pasca kuret, darah nifasku masih belum bersih, kadang beberapa hari ngga keluar, terus muncul lagi, itulah mengapa dalam Islam nifas dibatasi sampai 40 hari. Aku juga mulai terapi untuk sel telurku. Dokter memberi obat Forbetes 850 Mg yang berfungsi untuk membantu sel telur menangkap gula yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya. Dosis 3×1 hari untuk satu bulan. Dan aku harus kontrol setelah obat ini habis.
Mohon doanya ya…
alhamdulilah akhirnya aq bisa masuk jg.hehehe..iya say,pasti aq doakan.. semoga sma usaha2 kita selalu diridhoi oleh Allah SWT,percayalah say,anak itu adalah rejeki dr Allah, dan suatu saat kita pasti dikasih disaat yg paling tepat,amiin..kt saling mendoakan ya..tetap semangat..
mel… sabar ya…
jangan menyerah… tetap semangat
Mbak makasih ya atas komen di Blogku dang kasih informasi soal tribesta. Masalah kami memang jumlah sperma suami yang terlalu sedikit, kami akn coba konsultasikan soal tribestan itu pada dokter, apakah kiranya bisa membantu. Makasih banget infonya. Mbak lebih beruntung karena sempat bisa hamil, itu tandanya tidak akan ada kendala untuk bisa hamil lagi kan?? jadi tinggal tunggu waktu aja mbak, sabar dan berserah..oya, blognya aku link ya..
Ok, sama2. Mudah2an bisa membantu yaa… Iya, kemaren aq hamil aja udah surprised banget, mudah@an Tuhan kasih aq kesempatan lagi.
Link aja, anytime.
salam kenal. dua hari yang lalu saya juga mengalami kuretase. makasih info pengamalannya. mudah-mudahan kita sama-sama dikuatkan. sedang usaha hamil anak ke berapa?? smoga lekas berhasil. kalau saya sih sudah ketuaan, tapi gak tau apa penyebab janinku tidak berkembang. masih dalam pemeriksaan.
Salam kenal juga Mba Wiwik. Iya, semoga musibah ini membuat kita jadi manusia yang lebih tegar. Aq kemaren tuh hamil anak pertama, jadi sekarang lagi program hamil untuk anak kedua. Makasih ya doanya. Semoga Mba Wiwik segera tahu penyebab kenapa janinnya tidak berkembang. Makasih ya Mba udah mampir di blogku…